Kutub.co – Pernah merasa pasangan punya kebiasaan yang bikin bingung, tetapi sebenarnya tidak sampai mengganggu hubungan? Bisa jadi, kebiasaan tersebut termasuk dalam istilah beige flag yang belakangan ramai digunakan di media sosial.
Istilah beige flag semakin sering muncul di TikTok, X, hingga berbagai forum yang membahas hubungan. Istilah ini menggambarkan kebiasaan atau karakter seseorang yang terasa unik, sedikit aneh, atau bahkan membosankan bagi pasangannya, tetapi tidak secara langsung menunjukkan adanya persoalan serius dalam hubungan.
Beige flag bukan istilah resmi dalam psikologi maupun konseling hubungan. Verywell Mind dalam artikel What Is a Beige Flag in a Relationship? menjelaskan bahwa istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan sifat atau kebiasaan pasangan yang mungkin terasa tidak biasa, tetapi belum tentu berdampak negatif terhadap kualitas hubungan.
Kebiasaan Kecil yang Jadi Ciri Khas
Beige flag dapat muncul dari berbagai kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, seseorang selalu mendengarkan lagu yang sama ketika bekerja, memiliki gelas favorit yang selalu digunakan, menjalankan rutinitas tertentu sebelum tidur, atau memiliki cara tersendiri dalam menata barang.
Bagi pasangan, kebiasaan tersebut mungkin awalnya terasa aneh. Namun, selama tidak menimbulkan gangguan atau tekanan bagi pihak lain, hal itu dapat dipahami sebagai bagian dari karakter dan preferensi pribadi.
Bahkan, kebiasaan yang semula dianggap membingungkan bisa berubah menjadi sesuatu yang justru mudah dikenali dari pasangan.
Gaya Komunikasi yang Berbeda
Keunikan pasangan juga dapat terlihat dari cara berkomunikasi.Ada orang yang lebih nyaman mengirim voice note daripada mengetik pesan.
Ada pula yang senang membalas percakapan dengan meme, menggunakan emoji tertentu berulang kali, atau membutuhkan waktu cukup lama sebelum memberikan respons.
Perbedaan tersebut tidak selalu menunjukkan persoalan dalam hubungan. The Gottman Institute melalui pembahasan tentang The Four Horsemen menekankan pentingnya pola komunikasi yang tetap saling menghargai.
Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah cara berkomunikasi pasangan berbeda, tetapi apakah perbedaan tersebut membuat komunikasi menjadi sulit dan menimbulkan persoalan yang terus berulang.
Preferensi Pribadi dan Kebiasaan Digital
Di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan teknologi, beige flag juga dapat muncul dari kebiasaan digital.
Contohnya, pasangan yang selalu membaca banyak ulasan sebelum memilih restoran, memiliki puluhan tab yang terbuka di peramban, atau aktif menggunakan media sosial tetapi hampir tidak pernah mengunggah aktivitas pribadi.
Kebiasaan tersebut mungkin terasa unik bagi orang lain. Namun, perbedaan preferensi tidak selalu perlu dipermasalahkan selama tidak mengganggu kehidupan bersama atau membuat pasangan merasa tidak nyaman.
Kapan Kebiasaan Unik Perlu Dibicarakan?
Meski beige flag umumnya menggambarkan kebiasaan yang tidak terlalu serius, bukan berarti semua perilaku dapat dibiarkan begitu saja.
Hal yang perlu diperhatikan adalah dampaknya terhadap hubungan.
Misalnya, seseorang memang memiliki kebiasaan lambat merespons pesan. Hal tersebut masih dapat dipahami sebagai gaya komunikasi jika kebutuhan komunikasi tetap terpenuhi.
Namun, apabila kebiasaan tertentu membuat pasangan terus-menerus merasa diabaikan, menghambat penyelesaian masalah, atau memicu konflik yang sama berulang kali, persoalannya bukan lagi sekadar soal kebiasaan unik.
Karena itu, memahami beige flag bukan berarti menerima semua perilaku pasangan tanpa batas. Pasangan tetap perlu membicarakan hal-hal yang mulai mengganggu dan mencari kesepahaman mengenai kebiasaan yang berbeda.
Tidak Harus Menyukai Semua Kebiasaan Pasangan
Menjalani hubungan dengan seseorang berarti berhadapan dengan kebiasaan yang mungkin tidak selalu sama.
Ada yang terasa lucu, ada yang membingungkan, dan ada pula yang membutuhkan penyesuaian. Beige flag menjadi salah satu cara populer untuk menggambarkan sisi-sisi kecil tersebut.
Pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa aneh kebiasaan pasangan, melainkan bagaimana keduanya menyikapi perbedaan tersebut.
Memahami pasangan tidak berarti harus menyukai seluruh kebiasaannya. Begitu pula menerima keunikan seseorang bukan berarti mengabaikan rasa tidak nyaman yang muncul.
Selama kedua pihak masih dapat berkomunikasi, saling menghargai, dan memiliki ruang untuk menyampaikan batasan, kebiasaan yang berbeda bisa saja menjadi bagian kecil dari warna sebuah hubungan.