Na Willa Hadirkan Dunia Anak yang Belajar Menerima Perbedaan

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Film Na Willa tidak hanya membawa penonton masuk ke kehidupan seorang anak perempuan berusia enam tahun, tetapi juga memperlihatkan bagaimana dunia anak memandang perbedaan sebelum berbagai prasangka orang dewasa ikut membentuknya.

Film besutan sutradara Ryan Adriandhy yang diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo tersebut sejak awal memilih sudut pandang Willa sebagai pintu utama cerita. Pengalaman sehari-hari, persahabatan, konflik keluarga, hingga persoalan diskriminasi diperlihatkan melalui cara seorang anak memahami lingkungan di sekitarnya.

Salah satu gambaran tersebut muncul ketika Willa berbincang dengan Mbok mengenai keinginannya memiliki rambut ikal seperti Mak. Willa kemudian menangis setelah mendengar kemungkinan dirinya lebih menyerupai Pak, baik dari warna kulit, bentuk mata, maupun rambut.

Maka yang mengetahui kesedihan anak semata wayangnya kemudian menenangkan Willa. Ia mengatakan bahwa masa depan memiliki banyak kemungkinan. Willa bisa saja tumbuh tinggi seperti Pak sekaligus memiliki rambut ikal seperti Mak. Namun, apa pun yang terjadi, kasih sayang orang tuanya tidak akan berubah.

Adegan sederhana tersebut menjadi pengantar untuk melihat persoalan identitas dari perspektif anak. Bagi Willa, perbedaan fisik belum menjadi alasan untuk merasa lebih rendah atau lebih tinggi. Identitas justru hadir sebagai bagian dari dirinya yang diterima melalui hubungan penuh kasih bersama keluarga.

Perspektif serupa kemudian terlihat dalam hubungan Willa dengan Farida, Dul, dan Bud. Keempat anak tersebut tumbuh sebagai sahabat tanpa menjadikan perbedaan etnis maupun agama sebagai batas dalam pertemanan.

Farida dapat mengajak Willa mengaji dan salat tanpa membuat Willa merasa bahwa perbedaan latar belakang menjadi persoalan. Mereka tetap bermain, bercanda, dan menjalani keseharian sebagaimana anak-anak pada umumnya.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa prasangka tidak selalu hadir secara alamiah dalam diri anak. Lingkungan sosial dan cara orang dewasa memperkenalkan perbedaan memiliki peran besar dalam membentuk cara anak melihat orang lain.

Dul dan Cara Film Memaknai Disabilitas

Persoalan penerimaan diri juga diperlihatkan melalui karakter Dul. Setelah mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya harus diganti dengan kaki kayu, Dul tidak ditempatkan sebagai sosok yang harus selalu dikasihani.

Sebaliknya, film justru memperlihatkan bagaimana Dul berusaha menjalani kehidupannya dengan cara yang tetap dekat dengan dunia anak-anak. Ia bahkan merasa bangga dengan kaki kayunya karena menghasilkan bunyi ketika digunakan berjalan.

Momen tersebut semakin kuat ketika Dul dan Willa bernyanyi bersama di rumah sakit. Kaki kayu yang secara logika orang dewasa dapat dipandang sebagai simbol kehilangan justru hadir dalam imajinasi Dul sebagai sesuatu yang menarik.

Kehadiran Dul menjadi penting karena film tidak menjadikan disabilitas sebagai satu-satunya identitas tokoh. Setelah keluar dari rumah sakit, Dul tetap bermain bersama Willa, Bud, dan Farida. Ia tetap bersekolah dan menjalani aktivitas sehari-hari, meskipun kemampuan berlarinya berubah.

Dengan demikian, Dul tidak diposisikan sebagai korban, pahlawan, ancaman, ataupun sosok yang sepenuhnya bergantung kepada orang lain. Ia tetap seorang anak yang memiliki kegembiraan, rasa ingin tahu, dan keinginan bermain bersama teman-temannya.

Penggambaran tersebut sekaligus menantang stereotip yang selama ini kerap melekat pada karakter penyandang disabilitas dalam film. Alih-alih menjadikan kondisi fisik sebagai pusat tragedi, Na Willa memperlihatkan bahwa kehidupan seseorang dengan disabilitas tetap memiliki ruang untuk bermain, belajar, berteman, dan merasakan kebahagiaan.

Kejujuran sebagai Pegangan Willa

Selain keberagaman dan penerimaan diri, Na Willa juga menempatkan kejujuran sebagai salah satu nilai penting dalam perkembangan tokoh utamanya.

Pesan tersebut diperkenalkan melalui percakapan sederhana antara Mak dan Willa ketika keduanya merawat rambut Willa. Mak menggambarkan kebohongan seperti kerikil yang masuk ke dalam sepatu. Selama kerikil itu masih berada di sana, perjalanan akan terasa tidak nyaman. Sebaliknya, ketika kerikil dikeluarkan, langkah menjadi lebih ringan.

Bagi Willa, nasihat tersebut kemudian menjadi pegangan ketika menghadapi persoalan di sekolah.

Saat pertama kali memasuki lingkungan sekolah, Willa berhadapan dengan perlakuan diskriminatif dari teman-temannya karena identitas etnisnya. Ia juga menghadapi prasangka dari guru yang meragukan kemampuannya membaca dan menulis.

Dalam situasi tersebut, kejujuran menjadi cara Willa mempertahankan dirinya. Ia tidak memilih untuk mengubah atau menyembunyikan identitasnya hanya demi mendapatkan penerimaan dari lingkungan.

Konflik tersebut memperlihatkan bahwa persoalan anak tidak selalu berasal dari dunia mereka sendiri. Dalam beberapa situasi, justru dunia orang dewasa yang membawa prasangka, label, dan ukuran tertentu ke dalam kehidupan anak.

Ketika Mak mengetahui perlakuan yang diterima Willa, ia kemudian mencari lingkungan pendidikan yang lebih mampu menghargai keberagaman dan mendengarkan suara anak.

Namun film juga memberikan konsekuensi terhadap nasihat tentang kejujuran tersebut. Pada satu titik, Mak sendiri berbohong kepada Dul dengan alasan melindungi Willa. Kebohongan kecil itu kemudian berkelindan dengan kecelakaan yang dialami Dul.

Peristiwa tersebut membuat Willa mengalami rasa bersalah yang kemudian muncul melalui mimpi dan imajinasinya. Film dengan demikian tidak menyampaikan nilai kejujuran hanya melalui nasihat, tetapi menunjukkan bagaimana sebuah kebohongan dapat meninggalkan persoalan emosional bagi anak.

Dunia Anak Ditampilkan Lewat Bahasa Visual

Kekuatan Na Willa juga terletak pada cara film menerjemahkan pengalaman anak ke dalam gambar.

Kamera banyak mengikuti ketinggian pandangan Willa. Ketika berhadapan dengan orang dewasa, posisi kamera kerap ditempatkan pada eye level anak sehingga penonton ikut merasakan keterbatasan sekaligus keunikan perspektif Willa.

Ruang yang ditampilkan pun cenderung dekat dengan kehidupan sehari-harinya. Film tidak selalu mengandalkan gambar dengan jangkauan luas, tetapi lebih sering mempertahankan perhatian pada wajah, gerak tubuh, benda, serta interaksi yang berada di sekitar Willa.

Pendekatan tersebut membuat dunia anak terasa lebih intim. Hal-hal sederhana yang bagi orang dewasa mungkin tampak biasa dapat berubah menjadi pengalaman besar bagi Willa.

Kebahagiaan Willa bahkan beberapa kali diterjemahkan melalui visual yang imajinatif. Bangku yang bergerak, buku-buku yang seolah melayang, kilauan cahaya, hingga konfeti menjadi cara film menggambarkan bagaimana kegembiraan seorang anak dapat terasa begitu besar.

Pendekatan ini memperlihatkan penerapan teknik show, don’t tell. Film tidak selalu menjelaskan perasaan tokohnya melalui dialog, tetapi membiarkan ekspresi, gerak, komposisi gambar, suara, dan benda-benda di dalam adegan berbicara kepada penonton.

Hal tersebut terasa kuat ketika Willa menyaksikan kesedihan Mbak Martini, kakak Farida, yang menghadapi pernikahan dengan laki-laki yang jauh lebih tua.

Film tidak memberikan penjelasan panjang mengenai isi pikiran Willa. Sebaliknya, penonton diajak melihat wajah Mbak Martini yang pucat dan matanya yang sembap, kemudian menyaksikan respons Willa terhadap situasi tersebut.

Kontras kembali dibangun ketika kamera memperlihatkan calon suami Mbak Martini dengan senyum dan gigi emasnya, berhadapan dengan ekspresi Mbak Martini yang tampak tertekan. Penonton tidak perlu diberi penjelasan panjang untuk memahami bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam situasi tersebut.

Melalui cara itu, Na Willa menjadikan dunia anak bukan sekadar latar cerita, melainkan perspektif utama untuk membaca persoalan sosial yang lebih luas.

Pada akhirnya, film ini memperlihatkan bahwa anak-anak memiliki kemampuan untuk menerima perbedaan, beradaptasi terhadap perubahan, menikmati persahabatan, sekaligus memahami kejujuran dengan cara yang sederhana.

Persoalannya, seiring pertumbuhan mereka, cara pandang tersebut dapat berubah ketika anak mulai berhadapan dengan prasangka, diskriminasi, tuntutan sosial, dan berbagai konstruksi yang dibawa oleh lingkungan.

Karena itu, Na Willa tidak hanya mengajak penonton mengingat kembali masa kanak-kanak. Film ini juga menyodorkan pertanyaan kepada orang dewasa: apakah lingkungan yang kita bangun benar-benar membantu anak mempertahankan keberanian untuk menerima perbedaan, menjadi dirinya sendiri, dan memandang orang lain tanpa prasangka?

beraktivitas, film, Indonesia, Na Willa

Artikel Lainnya

My Neighbor Totoro; Persahabatan Manusia dengan Alam

10 Film Action Teka-Teki dengan Plot Twist Tak Terduga yang Wajib Ditonton

Avatar: Fire and Ash, Saat Pandora Memasuki Bab Paling Kelam

Leave a Comment