Dari Lahan Kosong Menjadi Rumah TOGA, Mahasiswa KKN UNINUS Manfaatkan Lingkungan Desa Haurngombong

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Kelompok 17 dan 18 mengembangkan Rumah Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Haurngombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Rumah TOGA tersebut dikembangkan di lahan sekitar kediaman Susi, Ketua Kader Posyandu Dusun 02, RT 04/RW 04, sebagai upaya memanfaatkan lingkungan rumah untuk budidaya tanaman obat yang dapat menunjang kebutuhan kesehatan keluarga.

Program Rumah TOGA disusun berdasarkan hasil observasi mahasiswa terhadap kondisi lingkungan dan pertanian di Desa Haurngombong. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian masyarakat telah memiliki tanaman obat keluarga, tetapi pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. Di sisi lain, kondisi kekeringan menjadi salah satu kendala dalam kegiatan penanaman karena dapat memengaruhi pertumbuhan sejumlah jenis tanaman. Temuan tersebut menjadi pertimbangan mahasiswa KKN dalam menentukan program yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat setempat.

Melalui program Rumah TOGA, mahasiswa berupaya memanfaatkan lahan yang tersedia sekaligus mengenalkan tanaman obat keluarga kepada masyarakat. Keberadaan Rumah TOGA diharapkan dapat menjadi tempat budidaya sekaligus sarana edukasi sederhana bagi masyarakat untuk mengenal jenis tanaman, manfaat, serta cara penanaman dan perawatannya.

Pemanfaatan Lahan untuk Rumah TOGA

Rumah TOGA dikembangkan di area sekitar Posyandu yang berada di lingkungan rumah Ibu Susi. Pemilihan lokasi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan serta kedekatannya dengan aktivitas masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menanam beberapa jenis tanaman obat keluarga, di antaranya jahe, kunyit, kencur, lengkuas, dan serai. Tanaman tersebut dipilih sebagai bagian dari upaya memanfaatkan lahan yang tersedia dengan jenis tanaman yang dapat dirawat dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Kegiatan diawali dengan survei dan persiapan lokasi. Setelah lokasi ditentukan, mahasiswa melakukan penataan area serta membuat rangka sederhana sebagai fasilitas pendukung Rumah TOGA. Selanjutnya, media tanam disiapkan menggunakan tanah, sekam bakar, pupuk kandang, dan cocopeat sebelum dimasukkan ke dalam polibag.

Setiap tanaman yang telah ditanam diberikan label untuk membantu masyarakat mengenali jenis tanaman yang tersedia. Setelah proses penanaman selesai, pemeliharaan menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program. Oleh karena itu, perawatan tanaman diharapkan dapat dilakukan bersama masyarakat agar Rumah TOGA tetap terjaga setelah kegiatan KKN berakhir.

Foto: Tanaman obat keluarga yang dikembangkan melalui program Rumah TOGA. Sumber: Dokumentasi Pribadi, Agustus 2026

Rumah TOGA sebagai Sarana Edukasi

Program Rumah TOGA tidak hanya berfokus pada penanaman tanaman obat keluarga, tetapi juga menjadi salah satu bentuk edukasi bagi masyarakat. Melalui keberadaan tanaman yang ditanam secara langsung di lingkungan sekitar, masyarakat dapat mengenali berbagai jenis tanaman sekaligus memperoleh informasi mengenai manfaat dan cara perawatannya.

Dengan adanya Rumah TOGA, pengetahuan mengenai tanaman obat keluarga diharapkan tidak hanya diperoleh secara teori, tetapi juga melalui pengalaman langsung dalam proses penanaman dan pemeliharaan.

Bagi mahasiswa KKN, pelaksanaan program tersebut menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang disusun berdasarkan kondisi di lapangan. Hasil observasi menjadi salah satu dasar dalam menentukan program kerja sehingga kegiatan yang dilakukan dapat disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan lingkungan Desa Haurngombong.

Rumah TOGA Diresmikan

Rumah TOGA Kelompok 17 dan 18 KKN Universitas Islam Nusantara diresmikan pada Minggu, 9 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan di rumah Ibu Susi selaku Ketua Kader Posyandu, Dusun 02 RT 04/RW 04, Desa Haurngombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Ibu Siti Nur, S.ST., M.Kom. Acara peresmian turut dihadiri oleh aparat desa, jajaran RW dan RT setempat, serta Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) beserta anggotanya.

Dalam sambutannya, Ketua KKN Posko 17 dan 18, Sidik, menyampaikan rasa terima kasih kepada warga atas sambutan hangat yang diberikan terhadap program Rumah TOGA, sekaligus berharap program ini dapat terus berkelanjutan meski masa KKN telah berakhir. Sambutan turut disampaikan oleh perwakilan PKK, Bapak Dedi, yang menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk menjadikan lahan kosong di sekitar rumahnya sebagai lokasi budidaya Rumah TOGA. Sementara itu, Ketua RW 04, Bapak Dendin, dalam sambutannya menyambut baik dan menyatakan dukungan penuh terhadap keberadaan program ini di wilayahnya.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemaparan dan penjelasan mengenai Rumah TOGA yang disampaikan oleh mahasiswa Program Studi Agroteknologi, meliputi jenis-jenis tanaman obat keluarga yang dibudidayakan, manfaatnya, serta cara penanaman dan perawatan yang perlu dilakukan. Momen peresmian kemudian ditandai dengan prosesi pemotongan pita yang dilakukan oleh Ketua Kader, Ibu Susi, sebagai simbol resmi beroperasinya Rumah TOGA, dan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh tamu undangan.

Sebagai penutup rangkaian acara, Bapak Kirman selaku perwakilan dari Saung Ilmu, lembaga binaan Yayasan LAZ Al-Azhar, memimpin sesi diskusi mengenai keberlanjutan program Rumah TOGA. Diskusi ini bertujuan untuk merumuskan langkah-langkah lanjutan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat serta memastikan manfaat Rumah TOGA dapat terus dirasakan warga Desa Haurngombong dalam jangka panjang.

Setelah diresmikan, keberlanjutan program Rumah TOGA tidak hanya ditentukan oleh proses pembangunannya, tetapi juga oleh pemeliharaan setelah kegiatan KKN selesai. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga tanaman dan lingkungan Rumah TOGA agar tetap terawat dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Program Rumah TOGA menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN Kelompok 17 dan 18 UNINUS bersama masyarakat Desa Haurngombong dalam memanfaatkan potensi lingkungan yang tersedia. Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dikembangkan menjadi ruang yang memiliki fungsi produktif sekaligus edukatif.

Melalui kegiatan tersebut, Rumah TOGA diharapkan tidak hanya menjadi tempat budidaya tanaman obat keluarga, tetapi juga dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengenal dan memanfaatkan lingkungan secara lebih produktif. Keberlanjutan pemeliharaan diharapkan dapat membuat manfaat program yang telah dimulai selama kegiatan KKN tetap dirasakan oleh masyarakat Desa Haurngombong setelah masa KKN berakhir.

Penulis: Sahla Hanida Gustiani

18, beraktivitas, Kelompok 17, KKN, Perkembangan, Pertumbuhan, Sumedang, Tanaman obat keluarga, Universitas Islam Nusantara

Artikel Lainnya

ICT Watch dan Meta Indonesia Gelar Pelatihan Literasi AI Ramah Disabilitas di Bandung

Ketika AI Mengeksploitasi Tubuh Perempuan: Grok, Kekerasan Gender, dan Gagalnya Etika Teknologi

Temu Perempuan Minimalis 2026: Minimalist Moms Indonesia Dorong Gaya Hidup Bijak dan Ramah Lingkungan

Leave a Comment