Review Film “Ibadah & Cinta”: Tentang Jatuh Cinta, Kehilangan dan Belajar Mengikhlaskan

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Ada beberapa hal dalam hidup yang tidak selalu bisa dimengerti sepenuhnya: jatuh cinta, kehilangan, dan mengikhlaskan. Tiga hal itulah yang menjadi kesan kuat Ai Siti Masruroh setelah menyaksikan film Ibadah & Cinta.

Film ini memang membawa kisah cinta sebagai pintu masuk cerita, tetapi sesungguhnya berbicara lebih luas tentang keluarga, iman, pilihan hidup, luka masa lalu, dan proses menjadi dewasa.

Cerita berpusat pada Rico, pemuda yang lama hidup di luar negeri lalu kembali ke Indonesia dan bertemu Santun, perempuan yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan keduanya mempertemukan dua dunia yang berbeda: Rico dengan pengalaman dan cara pandangnya sendiri, serta Santun dengan nilai agama, keluarga, dan kehidupan pesantren yang kuat.

“Menurut saya, film ini bukan sekadar cerita seorang laki-laki dan perempuan yang jatuh cinta. Pertemuan Rico dan Santun justru menjadi jalan untuk mengenal kehidupan, keluarga, dan nilai-nilai yang sebelumnya terasa jauh,” ujar Ai Siti Masruroh.

Menurutnya, kekuatan film ini terletak pada cara cinta digambarkan bukan sebagai jawaban atas semua persoalan, tetapi sebagai jalan untuk belajar memahami diri sendiri, keluarga, keyakinan, dan masa lalu.

Hubungan Rico dan Santun juga diperkaya oleh ketertarikan mereka terhadap puisi, termasuk karya Jalaluddin Rumi. Salah satu gagasan yang membekas adalah: “Kalau cinta adalah ibadah, maka patah hati adalah cara mendalaminya.”

“Cinta ternyata bukan hanya soal mendapatkan seseorang yang kita inginkan. Ada proses memperbaiki diri, menghargai pilihan orang lain, dan menerima bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan,” kata Ai.

Film ini juga mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan keluarga di Indonesia, terutama mengenai restu orang tua dan pilihan pasangan hidup. Konflik tersebut tidak ditampilkan secara hitam-putih, karena di dalamnya ada kekhawatiran orang tua, pilihan anak, nilai agama, tradisi, dan keinginan untuk memberikan yang terbaik.

“Orang tua tentu punya harapan, tetapi anak juga punya hati dan jalan hidupnya sendiri. Film ini mengingatkan bahwa cinta seharusnya membuat kita lebih mampu mendengar,” ujarnya.

Bagi Ai, kesan lain muncul dari kehadiran Sahabat Anggia Ermarini dan almarhumah Sahabat Hj. Margaret Aliyatul Maimunah dalam film.

“Kehadiran almarhumah Sahabat Margaret memberi rasa yang berbeda. Apalagi pesan yang dibawakan berkaitan dengan cinta, pernikahan, dan ibadah. Bagi saya, itu meninggalkan kesan yang cukup dalam,” tuturnya.

Selain romansa, Ibadah & Cinta juga berbicara tentang hubungan anak dan orang tua, luka yang belum selesai, penyesalan, serta pentingnya saling memaafkan.

“Jangan sampai kita baru memahami arti seseorang ketika sudah kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengannya. Kalau masih bisa meminta maaf, lakukan,” kata Ai.

Tanpa membocorkan perjalanan maupun akhir cerita, Ai menyebut tiga kata yang paling kuat mewakili film ini adalah jatuh cinta, kehilangan, dan mengikhlaskan.

“Bagi saya, pesan paling kuat dari Ibadah & Cinta adalah bahwa cinta bukan hanya tentang siapa yang akhirnya bersama kita. Yang lebih penting adalah menjadi manusia seperti apa kita setelah mengenal cinta itu,” pungkasnya.

Pada akhirnya, Ibadah & Cinta menghadirkan refleksi sederhana namun kuat: ketika cinta membuat seseorang menjadi lebih baik, lebih menghargai keluarga, lebih mampu memaafkan, dan semakin dekat kepada Allah, di situlah cinta menemukan maknanya sebagai ibadah.

Penulis: Ai Masruroh

Fatayat NU, film, Ibadah dan cinta, Kehilangan, Keikhlasan, Review

Artikel Lainnya

Belajar Tentang Persahabatan Lewat You and Everything Else

Film Tunggu Aku Sukses Nanti: Potret Jatuh Bangun Anak Muda di Tengah Tekanan Hidup dan Mimpi Besar

Na Willa Hadirkan Dunia Anak yang Belajar Menerima Perbedaan

Leave a Comment