Magdalene dan International Media Support Gelar Sisterhood Festival untuk Dorong Nilai Kesetaraan Gender

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Berkolaborasi dengan International Media Support (IMS) dan The Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA), Magdalene menggelar Sisterhood Festival perdana di Melting Pop, MBloc Space, Jakarta Selatan, (5/9). Menggandeng Women News Network (WNN), festival ini diselenggarakan untuk merayakan kekuatan kolektif perempuanlewat cerita yang menginspirasi, pertemuan komunitas senilai, dan solidaritas yang kokoh.

Editor-in-Chief Magdalene, Devi Asmarani berkata sisterhood dalam hal ini tidak hanyadimaknai sebagai sebuah gagasan, tetapi sebagai praktik nyata yang diwujudkan melaluidialog, aksi dan kolaborasi.

“Perjuangan mendorong kesetaraan bukan pekerjaan satu orang atau kelompok, tapi upayabersama yang dilakukan di berbagai lapisan masyarakat bahkan sampai ke ranah personal.Pada akhirnya upaya kolektif seperti inilah yang dapat membantu kita untuk terus merawatharapan,” tutur Devi.

Dibuka oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar,Sisterhood Festival 2026 mengusung empat pilar – Media, Pemberdayaan Ekonomi, KesehatanMental dan Kepemimpinan – yang dibungkus dalam berbagai panel diskusi, kegiatankomunitas, masterclass dan kelas warga. Tak hanya itu, pengunjung juga disuguhkanpenampilan perempuan komika Zahra Shafiyah dan musik dari duo Endah N Rhesa. Festivaljuga menggelar marketplace yang diisi berbagai usaha kecil menengah, serta komunitas danorganisasi.

Inklusivitas tak cuma jadi bahasan dalam panel diskusi dan kegiatan. Sisterhood Festival menghadirkan juru bahasa isyarat untuk Teman Tuli dan Child Corner untuk para ibu yangingin menikmati rangkaian acara.

Ruang Aman

Pengunjung Sisterhood Festival diajak berdiskusi dengan berbagai narasumber menarik.Misalnya, wawancara spesial dengan Jurnalis Tempo, sekaligus Host Bocor Alus Politik Fransisca Christy Rosana yang membongkar pengalaman dan tantangan perempuan jurnalis.

Dalam diskusi “Fireside Chat: Francisca Christy Rosana, Bocor Alus Tempo”, jurnalisTempo yang biasa dipanggil Chicha membagikan pengalamannya menjalankan tugas di tengahupaya membungkam suara jurnalis perempuan ketika meliput isu-isu sensitif. Tantangan yangdihadapi tidak hanya ancaman fisik namun juga intimidasi, serangan digital, pelecehan, hinggaupaya membungkam suara jurnalis perempuan ketika meliput isu-isu sensitif.

Menurutnya, berbicara pengalaman dan tantangan perempuan jurnalis jadi penting diSisterhood Festival. Terutama karena acara ini memberi ruang aman bagi perempuan untukmembicarakan pengalaman-pengalaman yang sering dianggap sebagai masalah individual,padahal sebenarnya berkaitan dengan struktur yang lebih besar.

“Seperti, relasi kuasa, kebebasan pers, keamanan digital, dan posisi perempuan di ruangpublik. Bagi saya, sisterhood bukan tentang membuat perempuan menjadi lebih ‘kuat’ agar bisamenghadapi ancaman sendirian. Justru sebaliknya, bagaimana kita menciptakan lingkunganyang membuat perempuan tidak harus menghadapi ancaman itu sendirian,” tambahnya.

Diskusi penting lainnya adalah Kelas Warga Magdalene yang kali ini membahas tentangpentingnya membuat kebijakan publik yang berperspektif perempuan. Sesi ini menggandengAnnette Ellen dari Aliansi Ibu Indonesia dan Nabiyla Risfa Izzati dari Kabinet Bayangan.

Nabiyla bilang kebijakan yang berpihak pada perempuan tidak selalu harus berpengaruhlangsung ada mengandung kata ‘perempuan’ di dalamnya. “Kita ada cuti hamil dan melahirkan.Tapi sampai sekarang kita enggak punya kebijakan cuti ayah. Satu-satunya yang diberikan itucuti menemani istri melahirkan, dikasihnya dua hari. Itu enggak berpihak pada perempuankarena kebijakan cuti melahirkan tanpa cuti ayah yang memadai, membuat pandanganmerawat anak yang baru lahir itu tanggung jawab perempuan aja,” kata Nabiyla.

Pengunjung Sisterhood Festival diajak ikut kegiatan Komunitas dengan Hannah Al Rashid dan Nadine Alexandra dari siniar Sini, Sis! yang membahas isu imposter syndrome yang kerapdialami perempuan dalam kehidupan, terutama dalam ranah personal.

Hannah dan Nadine membagikan pengalaman dan cara mereka mengatasi impostor syndrome.“Penting sekali untuk memahami bahwa perempuan di dunia ini masih sering menghadapidiskriminasi dan bias agar secara kolektif kami bisa terus membuat perubahan,” kata Hannah.

Menurut Sini, Sis! sisterhood adalah sebuah gerakan atau pemikiran dari perempuan yangkerap kali merasa sendiri dalam hidup. Menghadapi penindasan struktural, hubungan eratantar-perempuan untuk saling mendukung dan melindungi harus tetap terjaga. Maka dari itu,Sisterhood Festival bisa menjadi tempat untuk saling belajar dengan akuntabilitas.

“Perempuan sudah dari dulu melawan penindasan struktural melalui hubungan erat antaraperempuan yang saling melindungi, saling mengangkat, saling dukung dan sisterhood hanyalahbentuk terbarunya,” kata Nadine.

Media dan Ruang Dialog

Program Manager International Media Support (IMS), Eva Danayanti menjelaskan, Sisterhood Festival merupakan tempat bertemunya media dengan khalayak dan komunitas. Sehingga, hubungan terbangun tidak lagi hanya berdasarkan produksi dan konsumsi konten.

“Tetapi berkembang menjadi ruang dialog, saling belajar, dan membangun kepercayaan,” kata Eva.

Pertemuan ini, jelasnya, sangat penting supaya media dapat mendengar pengalaman dankebutuhan audiensnya. Interaksi yang lebih dekat mendorong media menghasilkan informasi yang lebih relevan dan representatif. Terlebih lagi, Sisterhood Festival berdiskusi dengan perempuan yang aktif menggunakan ruang digital untuk berekspresi.

“Ruang digital saat ini telah menjadi bagian penting dari ruang publik, tempat perempuanmenyampaikan pendapat, membangun komunitas, mengembangkan usaha, berkarya, sertaterlibat dalam berbagai isu sosial,” ungkap Eva.

Pun demikian, tingginya penggunaan ruang digital untuk perempuan berekspresi senyampangdengan potensi risiko. Maka dari itu, memastikan perempuan memahami hak, memilikikapasitas, rasa aman, dan kesempatan yang setara menjadi sangat penting untuk mendorongkesetaraan gender,

“Sisterhood Festival dapat memperkuat hal tersebut dengan mempertemukan perempuan,membangun solidaritas, meningkatkan pengetahuan tentang keamanan digital, sertamendorong terciptanya ekosistem digital yang lebih aman dan inklusif,” terangnya.

Berbagai pihak mendukung terselenggaranya Sisterhood Festival 2026, antara lain: TelkomIndonesia, OCBC, Artotel Wanderlust, dan HokBen.

Sebagai informasi, Magdalene adalah platform media feminis independen di Indonesia yang mempromosikankesetaraan gender, hak asasi manusia dan wacana publik yang inklusif. Melalui jurnalisme,storytelling dan keterlibatan komunitas, Magdalene menghadirkan liputan berbasis bukti danbertujuan konstruktif serta menciptakan ruang aman untuk percakapan tentang gender,keberagaman dan pemberdayaan.

International Media Support (IMS)

Tentang International Media Support (IMS): International Media Support (IMS) adalah organisasi nirlaba internasional yang bekerja di lebih dari 40 negara di empat benua untukmendukung media lokal di wilayah yang terdampak konflik bersenjata, ketidakamanan, dantransisi politik. IMS berkomitmen untuk memajukan kebebasan pers, memperkuat jurnalismeprofesional yang berkualitas, serta melindungi keselamatan para pekerja media agarmasyarakat dapat mengakses informasi yang tepercaya dan independen demi pembangunanyang damai serta demokratis. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui www.mediasupport.org.

beraktivitas, Festival, Internasional Media Support (IMS), Kesetaraan Gender, Magdalena, Ruang Aman, Sisterhood, Women News Network (WNN)

Artikel Lainnya

Penerapan AI di Redaksi Media Lokal Meningkatkan Efisiensi dan Kualitas Konten

Menteri PPPA Arifah Kenang Perjuangan di IPPNU, Ingatkan Untuk Selalu Cari Barokah

BRI Property Expo Sinarmas Land: Peluang Miliki Hunian Idaman dengan Penawaran Terbaik

Leave a Comment