Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, Pesantren Al-Munawwaroh Ciloa Dorong Ruang Aman bagi Santri

Hasemi

No Comments

Kutub.co- Pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang pengasuhan dan kehidupan sosial bagi santri. Karena itu, menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak menjadi bagian penting dalam pengelolaan pesantren.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Halaqoh Pesantren Ramah Perempuan dan Anak yang diselenggarakan Pondok Pesantren Al-Munawwaroh Ciloa, Kabupaten Garut, bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag), Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Garut, serta kepolisian, Sabtu (3/10/2026).

Mengangkat tema “Meneguhkan Pesantren sebagai Ruang Aman bagi Perempuan dan Anak”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-108, Haul Masyayikh Pesantren, dan Temu Alumni Pondok Pesantren Al-Munawwaroh Ciloa.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Munawwaroh Ciloa, KH Agus Muhammad Sholeh, mengatakan halaqoh tersebut menjadi ruang pembekalan bagi santri dan alumni untuk memahami berbagai persoalan yang dapat muncul dalam kehidupan pesantren, termasuk perundungan serta persoalan sosial dan psikologis.

Menurutnya, menjaga lingkungan pesantren merupakan tanggung jawab bersama agar berbagai persoalan yang dapat merugikan santri maupun lembaga dapat dicegah.

“Pada hari ini dilaksanakan halaqah diskusi berkaitan dengan isu-isu yang hangat akhir-akhir ini berkaitan dengan pesantren, khususnya berbagai isu yang sangat krusial dan penting untuk diketahui para alumni dan para santri,” ujarnya.

KH Agus berharap pembekalan tersebut dapat mendorong keluarga besar pesantren untuk saling menjaga dan menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi santri.

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Anak DP2KBP3A Kabupaten Garut, Ai Linlin Andriyani, mengatakan pesantren memiliki posisi strategis dalam perlindungan anak karena sebagian besar waktu santri dihabiskan di lingkungan pesantren.

“Pesantren memiliki posisi yang sangat strategis dalam perlindungan anak. Dalam kehidupan sehari-hari, santri dapat menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan pesantren,” jelasnya.

Kepala Bidang Perlindungan Anak DP2KBP3A Kabupaten Garut, Ai Linlin Andriyani saat memaparkan di pondok pesantren Al-Munawwaroh Ciloa, Sabtu (3/10/2026).

Menurut Ai Linlin, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang pengasuhan dan perlindungan. Karena itu, lingkungan pesantren perlu dibangun agar ramah dan nyaman bagi perempuan serta anak.

Ia berharap Pondok Pesantren Al-Munawwaroh Ciloa dapat mencegah berbagai bentuk kekerasan, termasuk diskriminasi, intoleransi, kekerasan fisik, maupun kekerasan psikis.

“Harapannya pesantren Al-Munawwaroh Ciloa ini dapat membentuk pesantren yang ramah dan nyaman, terutama terkait dengan adanya diskriminasi, intoleransi, baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan psikis,” ungkapnya.

Untuk memperkuat sistem perlindungan, DP2KBP3A Kabupaten Garut mendorong kolaborasi antara pesantren, Kemenag, dan lembaga terkait.

“Harapan kami dengan adanya penguatan ini adalah adanya kolaborasi dengan pihak terkait, adanya Kemenag, adanya Dinas DP2KBP3A untuk selalu berkoordinasi dalam penguatan sistem jaringan, terutama terkait dengan pembentukan pesantren yang ramah dan aman,” katanya.

Ai Linlin menjelaskan, apabila terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan atau anak di lingkungan pesantren, DP2KBP3A Kabupaten Garut siap memberikan pendampingan melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

Pendampingan tersebut meliputi pengaduan, penjangkauan korban, pengelolaan kasus, penampungan sementara melalui rumah aman, hingga mediasi dan pendampingan korban. Penanganan juga dapat melibatkan psikolog, asesmen, serta rehabilitasi untuk membantu korban menghadapi dampak psikologis akibat kekerasan.

“Bilamana terjadi kasus kekerasan yang menimpa di pesantren Al-Munawwaroh Ciloa, kami siap untuk mendampingi terhadap penanganan kasus,” ujarnya.

Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Kabupaten Garut, H. Badrul Munir Ghazali, mengatakan pesantren perlu memastikan santri mendapatkan tempat belajar yang aman dan nyaman.

“Ini merupakan pilot project bagi pondok pesantren yang ada di Kabupaten Garut. Ini adalah program Kementerian Agama bahwa pondok pesantren merupakan lembaga yang merupakan tempat aman, tempat nyaman untuk belajar di pondok pesantren,” ujarnya.

Menurut Badrul, penguatan pesantren ramah perempuan dan anak juga penting untuk meningkatkan kepercayaan orang tua dalam menitipkan pendidikan dan pengasuhan anaknya di pesantren.

“Kalau sudah ada satgas di pondok pesantren, pesantren yang ramah anak dan perempuan, insyaallah kepercayaan dari orang tua santri akan semakin bertambah untuk menitipkan anak-anaknya di pondok pesantren,” katanya.

Sementara itu, AIPTU Polsek Bl Limbangan Sakur Mulyoto turut mengingatkan pentingnya mencegah bullying dan persekusi di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren.

“Harapan saya, tentang bullying, persekusi yang biasanya terjadi di lembaga pendidikan di mana pun, tidak terlepas pesantren atau lembaga pendidikan formal, mudah-mudahan di pesantren Al-Munawwaroh Ciloa tidak terjadi,” ujarnya.

Ia berharap pencegahan bullying, persekusi, serta berbagai bentuk kekerasan dapat menjadi perhatian bersama sehingga pesantren tetap menjadi lingkungan pendidikan yang aman bagi santriwan dan santriwati.

anak, Holaqoh Pesantren, kekerasan, Limbangan Garut, Perempuan, Pondok pesantren Al Munawwarah ciloa

Artikel Lainnya

Perempuan Sudah Terlalu Lama Diminta Berhati-Hati. Kapan Negara Mulai Mencegah Kekerasan terhadap Perempuan?

Padati Makam Pendiri Ponpes Riyadul Jannah, Ratusan Santri, Alumni dan Masyarakat Umum Hadiri Haul Akbar ke-24

Antisipasi Misinformasi Pilkada, AMSI Jabar Adakan Pelatihan Cek Fakta

Leave a Comment