Ketika Candaan Berhenti Menjadi Lucu: Polemik Lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat”

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Beberapa hari terakhir, ruang digital dipenuhi perdebatan mengenai sebuah lagu berbahasa Sunda yang diciptakan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein. Bukan karena aransemen atau keindahan liriknya, melainkan karena isi lagu tersebut dinilai menjadikan pengalaman biologis perempuan sebagai bahan candaan. Polemik itu pun berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai batas humor, tanggung jawab pejabat publik, dan cara masyarakat memandang perempuan.

Kontroversi tersebut memperlihatkan bahwa sebuah lagu tidak selalu berhenti sebagai karya seni. Ketika dinyanyikan oleh seorang kepala daerah dan beredar luas di media sosial, liriknya ikut membawa nilai, membentuk persepsi, bahkan memengaruhi cara publik memaknai relasi antara laki-laki dan perempuan. Karena itu, kritik yang muncul tidak semata-mata ditujukan kepada lagunya, melainkan kepada pesan yang dinormalisasikan melalui karya tersebut.

Lagu berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat menuai kritik karena sejumlah liriknya dianggap merendahkan pengalaman biologis perempuan. Menstruasi, kehamilan, keguguran, hingga penggunaan bra dijadikan pembanding untuk menegaskan betapa “beruntungnya” menjadi laki-laki.

Menanggapi polemik tersebut, Saepul Bahri Binzein menjelaskan bahwa lagu itu ditulis pada 2020 sebagai refleksi atas perjalanan hidupnya sendiri.

“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri, berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal.”ujar Saepul dikutip dari laman Antaranews.com.

Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada publik. Meski demikian, ketika sebuah karya telah dipublikasikan oleh seorang pejabat negara, maknanya tidak lagi sepenuhnya menjadi milik penciptanya. Masyarakat berhak menafsirkan, mengkritik, sekaligus mempertanyakan pesan yang terkandung di dalamnya.

Lirik yang Menjadi Sorotan

Nuhun Gusti tos nyiptaekeun kuring jadi lalaki.(Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku menjadi laki-laki.)

Cacak mun jadi awewe SMP kelas tilu tos karuron tujuh kali.(Andai menjadi perempuan, saat kelas tiga SMP sudah keguguran tujuh kali.)

Nuhun Gusti tos nyiptaekeun kuring jadi lalaki.(Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku menjadi laki-laki.)

Teu kudu meuli kutang, itu busana leuwih gede batan susu.(Tidak perlu membeli bra yang busanya lebih besar daripada payudara.)

Nuhun Gusti tos nyiptaekeun kuring jadi lalaki.(Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku menjadi laki-laki.)

Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan.(Tidak perlu keliling mencari apotek karena terlambat datang bulan.)

Nuhun Gusti tos nyiptaekeun kuring jadi lalaki.(Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku menjadi laki-laki.)

Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata, sakalina ngiceup hese beunta.(Tidak perlu menggambar alis dan bulu mata hingga sekali berkedip terasa berat.)

Lirik-lirik tersebut kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih besar: mengapa pengalaman biologis perempuan begitu mudah dijadikan bahan humor, sementara pengalaman biologis laki-laki hampir tidak pernah diperlakukan dengan cara yang sama?

Tubuh Perempuan Jadi Candaan

Persoalan utama dalam polemik ini bukan semata-mata penggunaan kata-kata yang kasar atau tidak pantas. Yang menjadi perhatian adalah cara pengalaman biologis perempuan diposisikan sebagai objek yang layak ditertawakan.

Menstruasi, kehamilan, persalinan, hingga keguguran bukan sekadar peristiwa biologis. Di balik pengalaman tersebut terdapat rasa sakit, perubahan fisik, tekanan psikologis, bahkan risiko kesehatan yang dialami perempuan. Ketika pengalaman-pengalaman itu dijadikan punchline untuk menegaskan bahwa menjadi laki-laki lebih menguntungkan, humor tersebut kehilangan konteks empatinya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan masih sering diperlakukan sebagai ruang yang bebas dikomentari. Mulai dari bentuk tubuh, cara berpakaian, pilihan berdandan, hingga fungsi reproduksi, semuanya kerap menjadi bahan penilaian publik. Akibatnya, pengalaman yang seharusnya dipahami dengan empati justru berubah menjadi komoditas hiburan.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Judith Butler dalam Gender Trouble (1990). Butler menjelaskan bahwa gender tidak hadir secara alamiah, melainkan terus dibentuk melalui bahasa, simbol, kebiasaan, dan praktik budaya yang diulang-ulang. Lagu, film, maupun bentuk hiburan lainnya bukan hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga ikut membentuk cara masyarakat memahami laki-laki dan perempuan.

Sementara itu, sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa bahasa dan simbol memiliki kekuatan untuk memperoleh legitimasi ketika disampaikan oleh seseorang yang memiliki otoritas. Dalam konteks ini, ucapan atau karya seorang kepala daerah memiliki bobot sosial yang berbeda dibandingkan individu biasa karena membawa otoritas simbolik.

Karena itu, polemik ini dapat menjadi refleksi bersama bahwa kebebasan berkesenian tetap berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial. Humor tentu memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat, tetapi humor juga dapat memperkuat stereotip apabila dibangun dari pengalaman kelompok yang selama ini lebih rentan mengalami diskriminasi.

Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan karya yang menghibur, tetapi juga karya yang mampu menghadirkan empati dan memperluas cara pandang. Kontroversi lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat menjadi pengingat bahwa pilihan kata dalam sebuah karya dapat memengaruhi cara publik memandang kelompok tertentu. Ketika humor dibangun dengan menghargai martabat setiap orang, karya seni justru memiliki kesempatan menjadi ruang dialog yang lebih sehat, bukan sumber polarisasi baru.

Sosiolog Pierre Bourdieu menyebut otoritas semacam ini sebagai modal simbolik. Ketika seseorang yang memiliki kekuasaan menyampaikan suatu narasi, narasi tersebut lebih mudah diterima sebagai sesuatu yang sah atau lumrah. Karena itu, kritik terhadap lagu ini tidak hanya menyasar isi liriknya, tetapi juga posisi penciptanya sebagai kepala daerah.

Bupati Purwakarta, Lagu, Pejabat publik, Pengalaman biologis, Perempuan, Saepul Bahri Binzein, Tubuh

Artikel Lainnya

Makna “Kepompong”- Glenn Fredly, Lagu yang Menggugah Semangat Perubahan

Belajar dari Lagu “Gala Bunga Matahari” – Sal Priadi

Lagu Hatchu!! dari Salma Salsabil Relate dengan Kehidupan Pekerja yang Penuh Tekanan

Leave a Comment