Kutub.co – Ada satu mantra itu yang selalu melekat, bahwa cerita pengalaman perempuan adalah sumber ilmu pengetahuan. mantra ini sejatinya merupakan prinsip atau tradisi teori yang digunakan para aktivis dan akademisi feminis, untuk dijadikan basis utama dalam melakukan pergerakan serta penelitian yang kemudian dikenal sebagai stand point theory (teori sudut pandang). saya cukup menikmati banyak jurnal, kolom, buku, yang justru titik berangkatnya adalah pengalaman khas perempuan yang seringkali orang menganggapnya terlalu sederhana, atau sangat personal. justru teorinya memang demikian “the personal is political” karena pengalaman perempuan tidak pernah berdiri sendiri, tetapi terikat dengan konstruksi social masyarakat.
Banyak pula kebijakan-kebijakan yang bias gender atau kebijakan dengan standar tunggal bisa berubah justru bukan karena sederet angka dan hal-hal yang sifatnya kajian teoritis. kebijakan kaku itu justru mencair setelah mendengarkan cerita personal, ketakutan, keresahan, ketidak nyamanan perempuan yang bergema dimana-mana. Para pembuat kebijakan tersebut justru tersentuh nuraninya karena “hal yang kita anggap sederhana” bahkan seringkali terbesit “memang ini penting untuk dibahas?”. mendengarkan pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan tentu akan menghadirkan kebijakan yang lebih sensitif dan lebih berkeadilan. mengingat perempuan memiliki pengalaman khas biologis dan sosial yang berbeda sehingga kita butuh standar yang inklusif untuk kehidupan yang lebih maslahah.
Ketertarikan saya untuk terus menghidupkan mantra ini ternyata cukup membuat saya berefleksi. Saya mencoba untuk melihat bagaimana Al-Qur’an disajikan. apakah Tuhan juga menggunakan metode yang sama? mendengarkan pengalaman perempuan dan mendatangkan hukum yang sensitif dan egaliter untuk diaktualkan.
Dalam tradisi tafsir kelasik, hampir tidak pernah disebutkan metode khusus “pengalaman perempuan” sebagai landasan penafsiran atau metode tersendiri dalam memahami kalamullah (kalam Allah). Namun ada satu penggalan ayat yang menurut saya senafas dengan konsep pengalaman perempuan ini, yakni surat Yusuf ayat 111:
Laqad kāna fī qaṣaṣihim ‘ibratul li’ulil-albāb
(Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal)
Sebuah keniscayaan bahwa di dalam sebuah kisah tentu mengandung pengalaman-pengalaman yang berbeda. Jika demikian, pengalaman ini divalidasi oleh Tuhan sebagai sebuah pengajaran yang kemudian berevolusi menjadi hukum bagi mereka yang berakal. Menariknya, banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang bentuknya memang disajikan dengan sajian “kisah” atau “pengalaman” (kisah imroatul aziz (dalam kisah nabi yusuf), ratu balqis, kisah hawa, Maryam, Asiah (istri fir’aun), sarah/Hajar (Istri nabi Ibrahim), Ibu Nabi Musa. Walau masih disayangkan kisah-kisah ini oleh interpreter sekedar disajikan dengan konteks social yang cenderung patriarkal. Imbasnya, kisah kisah perempuan ini lebih sering dinikmati sebagai “pelengkap moral” tidak dibaca secara kritis yang menkonstruksi ulang keadilan social umat.
Melalui uraian ini, saya meyakini bahwa membaca teks langit dengan lebih sensitif dan menghidupkan “pengalaman perempuan” sebagai landasan yang lebih kritis untuk ditangkap sebagai sumber epistemic bukanlah upaya “memaksakan”, justru mengaktualkan potensi internal teks itu sendiri. Pengalaman adalah gerbang utama menuju keadilan dan kemaslahatan. Dalam konteks ini “yang personal” akan benar-benar menjadi “politis” dan akan memberikan kita metode teologis bagaimana cara memahami kehendak Tuhan dalam realitaas kehidupan umat manusia.
Penulis: Qathrun Nada