Kutub.co – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali menyelenggarakan International Public Lecture Series #4 yang mengusung tema “Negotiating Moral Boundaries in the Digital Space: Gender and Young Muslim Women’s Ethical Learning in Pesantren and Islamic Higher Education.”
Kegiatan yang berlangsung di Lecture Hall Lantai 1 Kampus I UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Selasa (4/8/2026) ini menghadirkan antropolog sekaligus akademisi asal Amerika Serikat, Dr. Claire-Marie Hefner, sebagai narasumber, dengan Dr. Irma Riyani sebagai moderator.
Dalam paparannya, Dr. Claire-Marie Hefner memaparkan hasil penelitian etnografis yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun di dua lembaga pendidikan Islam di Yogyakarta, yakni Madrasah Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta dan Pondok Pesantren Krapyak Ali Maksum. Penelitian tersebut dilakukan melalui observasi langsung dengan tinggal bersama para santriwati, mengikuti kegiatan belajar di kelas, serta melakukan wawancara mendalam dengan guru, santri, dan orang tua.
Menurutnya, alasan utama orang tua memilih pesantren tidak hanya untuk memberikan pendidikan agama kepada anak, tetapi juga sebagai upaya membentengi mereka dari berbagai tantangan moral yang berkembang di masyarakat.
“Sebelumnya orang tua lebih banyak mengkhawatirkan pergaulan bebas, narkoba, dan alkohol. Namun sejak sekitar tahun 2019 muncul kekhawatiran baru, yaitu penggunaan smartphone dan media digital yang semakin luas di kalangan remaja,” ujarnya
Ia menambahkan, pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik melalui pengaturan penggunaan teknologi secara bijaksana. Meskipun banyak pesantren membatasi penggunaan gawai, akses internet tetap diberikan secara terkontrol sebagai bagian dari kebutuhan pembelajaran di era digital.
Dr. Claire-Marie Hefner juga menyoroti dinamika gender dalam penggunaan media sosial. Berdasarkan hasil penelitiannya, perempuan muda lebih sering menjadi sasaran pengawasan dan kritik dibandingkan laki-laki terhadap aktivitas mereka di ruang digital.
“Saya menemukan bahwa para santriwati belajar menegosiasikan nilai-nilai moral yang mereka peroleh di pesantren dengan tantangan yang mereka hadapi di media sosial. Mereka tetap berusaha memegang nilai-nilai agama sambil memahami ruang digital yang terus berkembang,” jelasnya.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa media sosial kini menjadi ruang bagi perempuan Muslim muda untuk menunjukkan sekaligus memperkuat otoritas keagamaan mereka. Melalui berbagai platform digital, mereka aktif berdiskusi, menyampaikan pandangan keagamaan, serta saling mengingatkan mengenai etika bermedia sosial berdasarkan nilai-nilai Islam.
Pada akhir pemaparannya, Dr. Claire-Marie Hefner mengaitkan penggunaan gawai dengan meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan generasi muda di berbagai negara. Mengacu pada gagasan Jonathan Haidt, ia menilai perlu adanya langkah bersama dalam menghadapi tantangan tersebut.
Kita perlu mendukung sekolah bebas smartphone, menetapkan batas usia penggunaan media sosial, serta memperkuat kurikulum literasi digital agar generasi muda mampu memilah informasi secara kritis dan bertanggung jawab,” tuturnya.
Melalui penyelenggaraan International Public Lecture Series #4, PSGA LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap diskusi mengenai etika digital, pendidikan Islam, dan pembentukan karakter generasi muda terus berkembang sebagai upaya menjawab tantangan kehidupan di era digital, khususnya bagi perempuan Muslim muda di lingkungan pesantren dan pendidikan tinggi Islam.