Potluck: Merawat Kebersamaan di Tengah Hidup yang Kian Mahal

Hasemi

No Comments

Kutub.co – Di tengah kenaikan harga bahan pangan, ongkos transportasi, hingga biaya makan di luar rumah, berkumpul bersama keluarga, teman, maupun komunitas perlahan menjadi aktivitas yang perlu dipertimbangkan ulang. Sekadar makan di restoran atau kafe bisa menghabiskan puluhan hingga ratusan ribu rupiah dalam sekali pertemuan. Akibatnya, banyak orang mulai mengurangi intensitas bersosialisasi demi menekan pengeluaran.

Di tengah situasi tersebut, konsep potluck kembali mendapat tempat. Alih-alih satu orang menanggung seluruh biaya jamuan atau semua peserta membeli makanan di tempat yang sama, setiap orang membawa makanan atau minuman dari rumah untuk dinikmati bersama. Cara ini membuat biaya lebih ringan sekaligus menciptakan suasana yang lebih akrab.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu harus mengurangi ruang untuk membangun hubungan sosial. Justru di tengah tekanan biaya hidup, masyarakat menemukan cara baru untuk tetap saling terhubung tanpa harus terjebak dalam budaya konsumtif.

Potluck dan budaya gotong royong Indonesia

Meski istilah potluck berasal dari budaya Barat, praktik serupa sebenarnya telah lama hidup di Indonesia.

Direktori Dosen Universitas Padjadjaran Fadly Rahman menjelaskan bahwa hampir setiap daerah memiliki tradisi makan bersama yang berlandaskan semangat kebersamaan.

Di Jawa dikenal tradisi liwetan, masyarakat Sunda memiliki ngabotram, Bali mengenal megibung, Sumatra Barat memiliki bajamba, sementara masyarakat Lampung mempunyai tradisi seruit. Tradisi-tradisi tersebut lahir dari budaya agraris dan maritim yang menjadikan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus mempererat solidaritas sosial.

Menurut Fadly, makanan bukan sekadar pemenuh kebutuhan biologis, tetapi juga media memperkuat hubungan antarmanusia. Nilai gotong royong itu membuat setiap anggota masyarakat merasa memiliki ruang yang sama untuk berpartisipasi tanpa melihat kondisi ekonomi masing-masing.

Menjaga kesehatan mental lewat kebersamaan

Potluck juga memiliki manfaat yang melampaui persoalan ekonomi. Berkumpul dan makan bersama merupakan bagian dari dukungan sosial yang penting bagi kesehatan mental.

Psikolog klinis Rose Mini Agoes Salim menjelaskan bahwa interaksi sosial yang hangat membantu seseorang mengurangi stres dan meningkatkan rasa memiliki terhadap kelompok. Dukungan sosial menjadi salah satu faktor penting yang membuat seseorang lebih tangguh menghadapi tekanan hidup sehari-hari.

Dalam konteks ini, potluck menghadirkan ruang interaksi yang lebih inklusif. Tidak ada tuntutan untuk mengeluarkan biaya besar. Setiap orang dapat berkontribusi sesuai kemampuan sehingga tidak muncul beban ekonomi yang berlebihan.

Melawan budaya konsumtif

Di era media sosial, berkumpul sering kali identik dengan mengunjungi tempat-tempat yang sedang populer. Tidak sedikit orang merasa harus datang ke restoran atau kafe tertentu agar tetap dianggap mengikuti tren.

Padahal, potluck menawarkan perspektif berbeda. Nilai utama sebuah pertemuan bukan terletak pada lokasi atau harga makanan, melainkan pada kesempatan untuk berbagi waktu, cerita, dan perhatian.

Praktik ini sekaligus mengingatkan bahwa kebersamaan tidak harus selalu dibangun melalui konsumsi. Dengan membawa makanan dari rumah, peserta dapat menghemat pengeluaran sekaligus mengurangi kecenderungan membeli makanan secara berlebihan.

Mengurangi limbah makanan

Selain lebih hemat, potluck juga berpotensi mengurangi pemborosan makanan jika direncanakan dengan baik. Sebelum acara berlangsung, peserta dapat membagi jenis makanan yang akan dibawa sehingga tidak terjadi penumpukan menu yang sama.

Perspektif ini menjadi penting mengingat Indonesia masih menghadapi persoalan limbah makanan.

Laporan Food Waste Index Report 2024 dari United Nations Environment Programme menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 14,73 juta ton limbah makanan rumah tangga setiap tahun, menjadikannya salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Data tersebut menunjukkan bahwa perencanaan konsumsi memiliki peran penting dalam mengurangi pemborosan pangan.

Kebersamaan tidak harus mahal

Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, potluck menjadi pengingat bahwa menjaga hubungan sosial tidak selalu membutuhkan pengeluaran besar. Tradisi berbagi makanan yang telah lama hidup di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa kebersamaan justru tumbuh ketika setiap orang saling berkontribusi sesuai kemampuan.

Pada akhirnya, nilai potluck bukan sekadar soal siapa membawa makanan apa. Yang lebih penting adalah terciptanya ruang untuk saling bertemu, berbincang, dan berbagi tanpa dibatasi kemampuan ekonomi. Di saat banyak orang berupaya mengencangkan ikat pinggang, potluck menjadi contoh sederhana bahwa solidaritas dapat menjadi cara paling murah sekaligus paling bermakna untuk menghadapi hidup yang semakin mahal.

beraktivitas, Berkumpul, Indonesia, Kesetaraan, Nongkrong, Potluck, Remaja, Sahabat

Artikel Lainnya

Mansplaining: Ketika Laki-laki Menjelaskan dengan Cara Meremehkan

Media Sosial, Tubuh Perempuan, dan Upaya Melawan Standar Kecantikan yang Merugikan

Liburan Akhir Tahun ala Gen Z: Santai, Seru, dan Bikin Mood Balik ke 100%

Leave a Comment