Kutub.co – Media sosial telah membuat siapa pun bisa menyuarakan dukungan terhadap berbagai isu sosial hanya dengan beberapa ketukan jari. Mulai dari isu kemanusiaan, lingkungan, hingga pendidikan, masyarakat kini dapat menunjukkan kepeduliannya melalui unggahan, tagar, atau kampanye daring. Namun, di tengah derasnya arus informasi, muncul pertanyaan: apakah semua bentuk dukungan itu benar-benar lahir dari kepedulian, atau hanya sekadar mengikuti tren?
Fenomena ini dikenal dengan istilah performative activism atau aktivisme performatif. Menurut A.F. Thimsen, performative activism merupakan tindakan yang lebih berorientasi pada penampilan dukungan di hadapan publik dibandingkan keterlibatan nyata untuk mendorong perubahan. Seseorang tampak peduli terhadap suatu isu, tetapi tidak berusaha memahami persoalan secara mendalam maupun mengambil langkah konkret setelahnya.
Aktivisme performatif umumnya ditandai dengan kebiasaan membagikan konten yang sedang viral tanpa melakukan riset terlebih dahulu. Dukungan diberikan karena isu tersebut sedang ramai diperbincangkan, bukan karena adanya pemahaman terhadap akar persoalan. Ketika tren berganti, perhatian pun ikut menghilang.
Peneliti dari Institut Teknologi Bandung dalam kajian “Fenomena Aktivisme Performatif di Era Digital” menjelaskan bahwa aktivisme performatif sering kali muncul ketika partisipasi sosial dilakukan demi memperoleh perhatian, pengakuan, atau citra positif di ruang digital. Aktivisme semacam ini berisiko menggeser fokus dari substansi masalah menjadi sekadar penampilan kepedulian.
Meski terlihat tidak berbahaya, aktivisme performatif dapat menimbulkan dampak negatif. Ketika banyak orang hanya ikut menyebarkan isu tanpa memahami konteksnya, informasi yang beredar rentan menjadi dangkal bahkan menyesatkan. Akibatnya, perhatian publik lebih banyak tersedot pada simbol dukungan daripada solusi yang dibutuhkan.
Sebaliknya, terdapat bentuk keterlibatan yang dikenal sebagai genuine solidarity atau solidaritas tulus. Solidaritas ini tidak selalu terlihat ramai di media sosial, tetapi diwujudkan melalui upaya memahami persoalan, mendukung pihak yang terdampak, serta berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.
Antropolog Universitas Indonesia, Mia Siscawati, menekankan pentingnya menghubungkan kepedulian sosial dengan kerja nyata di masyarakat. Melalui berbagai riset dan aktivitas advokasinya, ia menunjukkan bahwa perubahan sosial memerlukan keterlibatan yang berkelanjutan, bukan sekadar respons sesaat terhadap isu yang sedang populer.
Solidaritas yang tulus dapat diwujudkan dalam berbagai cara. Ada yang memilih berdonasi kepada lembaga terpercaya, mendukung kampanye edukasi, mengubah kebiasaan sehari-hari yang berkontribusi pada masalah, atau terus mengawal isu hingga mendapatkan perhatian yang layak. Bentuknya bisa berbeda-beda, tetapi semuanya berangkat dari pemahaman dan komitmen yang nyata.
Pada akhirnya, aktivisme tidak diukur dari seberapa banyak unggahan yang dibuat, melainkan dari sejauh mana seseorang bersedia memahami persoalan dan terlibat dalam upaya penyelesaiannya. Membagikan informasi di media sosial tentu bukan hal yang salah. Namun, kepedulian yang berhenti pada unggahan semata sering kali tidak cukup untuk menghasilkan perubahan.
Kutubers, Di era digital yang serba cepat, tantangan terbesar bukanlah menunjukkan bahwa kita peduli, melainkan membuktikan bahwa kepedulian tersebut benar-benar diwujudkan dalam tindakan.